Pembelajaran Keberagaman

Kemarin, saya baca tulisan “Bung Piring”: Berteman dengan yg beda agama.

Menurut saya tulisan ini sangat peka waktu, dan juga dengan baik menjabarkan ide penulisnya – plus, ada survey kecil-kecilan. Well executed!

Apakah punya teman dekat yg berbeda agama?
Jawabannya punya banget; dan masih punya.

Selama di Indonesia, teman2 ini yg membuat saya tetap menapak bumi dalam kehidupan pertemanan. 
Tapi sekarang, koinnya terbalik, saya yg berada dilingkungan “minoritas”. 

Menariknya, karena beberapa teman baru di sini, banyak yg seumur hidupnya baru akhirnya benar2 punya teman seorang Muslim – berjilbab pula! (Maksudnya obvious banget).

Mulai dari yg persisten bolak balik manggil nama saya mau ngajak ngobrol ketika saya sedang shalat di ruang kerja (pas di kasih tau…oy apaan? Tadi gua shalat…baru ber-oooo panjang banget).

Ada yg minta dibuatin summary dalam bentuk tulisan; kamu kalau puasa ngapain aja? Terus saya harus gimana?

Atau yg buru2 berkerubung ke ruang kerja, ketika di tv salah satu calon presiden (now…the president) bilang “semua muslim harus wajib lapor dan kita awasi pergerakannya”; terus bilang “Maaf ya Dinda, kamu dan keluarga gimana? Baik2 saja?” (Sementara Dinda lagi ngemil pas mereka datang).

Owh ada lagi yg sibuk bulak balik sms pas tau saya mau travelling naik pesawat rute domestik sendirian. Trus saya dengan anteng bilang “I am Ok, cuma di stop aja di security tadi; trus ya di body search, dan tangan di cek ada residu bubuk mesiu gak. Jadi tangan saya di oles2 pakai kapas, trus hasilnya dimasukkin mesin yg bisa langsung baca kandungannya apa aja. Keren deh, kaya episode di serial CSI. Tapi trus boleh lewat kok, ternyata tangan saya cuma ada body lotion”. Temen saya jantungan dengernya, sementara saya santai nunggu pesawat sambil baca novel.

Jangan ketinggalan duo boss saya, pak boss dan bu boss boss; yg sepanjang perjalanan dinas 4 hari, selalu cross check ulang “Dinda…ini kalau kita makan kesini, kamu ada yg bisa dimakan gak? Atau kita pindah restoran gak papa”. Dan gak lupa nyediain botol air putih berlabel “khusus Dinda” sementara mereka minum wine 😅

Itu yg unyu2, yg kejadian kena hate crime karena saya minoritas (plus berjilbab…pak suami mah aman2 aja tuh!) ada juga beberapa. Tapi kan gak seru buat diceritain – lebih baik buat refleksi diri aja.

Tapi kejadian 2 minggu lalu cukup bikin sedih, krn ada teman yg tanya “kenapa kalian berperilaku tidak adil ke gubernur yg bukan muslim itu? Kenapa dia ditangkap?”. Karena begitu cepatnya informasi berjalan, berita di Jakarta pun terdengar oleh orang2 di sini. Well…akhirnya kita duduk dan diskusi lama. 

Hal ini, membuat saya berpikir, kebetulan teman ini cukup dekat dengan saya sehingga mau bertanya dan diskusi. Tetapi, tentu banyak orang lain yg hanya diam dan berasumsi di kepalanya tentang harga toleransi di Indonesia.

Apalagi dengan kejadian video melibatkan anak2 yg menyuarakan kalimat kebencian. Benar2 menohok dan mengusik rasa kebersamaan. 

Walau berbeda, tetap bisa bersama

Mari mulai sejak anak2 masih kecil kita ajarkan mereka, sebelum prasangka terbentuk; bahwa keberagaman itu bukan hanya indah, tetapi meng-kaya-kan!

– Dinda –

Advertisements

Leave your comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s